Senang dan Sedih datang bersama setiap Lebaran
Irda namanya, selalu merasa demikian semenjak dia kecil di lingkungan keluarga besarnya. jelas apa yang dirasakan Irda memiliki alasan karena dia sedang tidak memiliki penyakit psikis. tapi lama - lama yang dirasakan Irda bisa menumbuhkan sakit psikis. Mari kita fokus di Irda, dia sorang anak dari orang tua yang cukup complicated. Orang tuanya bercerai sejak dia masih kecil, dia tumbuh bersama adik laki - lakinya yang memiliki potensi tersesat karena pengaruh lingkungan keluarga dan sekitar. Walaupun orang tuanya broken home dan memiliki kebiasaan mencari pasangan hidup sejati alias beberapa kali melakukan pernikahan, dia dan adiknya tumbuh di keluarga besar ayahnya yang bisa dibilang lumayan mampu. Jadi jika dideskripsikan mengenai keluarganya, hanya ayahnya lah yang tidak memiliki keberuntungan finansial seperti paman dan bibinya serta memiliki beberapa skandal percintaan dan perhutangan yang membuat geram paman dan bibi Irda ini. Sungguh naas bukan hidup Irda ini. Yang membuatnya naas adalah ketika dia harus berkumpul dengan keluarga besar ayahnya. Iya betul, Lebaran adalah momen indah bagi Irda sekaligus neraka. Sejak kecil, dia terus menerima komen dan berbagai pendapat negatif dari paman dan bibinya mengenai orang tuanya, tidak hanya keluarga besarnya tapi lingkungan tetangga sekitar yang membuat Irda terus - terusan memiliki sikap difensif dengan bebagai cara. Defensif yang Irda lakukan bisa hal positif dan negatif, negatifnya dia lebih senang bermain sendiri, memilih sesuatu yang dirasa nyaman dan menyenangkan baginya dan terkadang membuat dia menjadi seorang anak yang egois. Loss and Profit menjadi prinsip hidupnya karena dia sudah lelah dengan omongan - omongan yang dilontarkan saudara - saudaranya. Positif yang dilakukannya adalah saat kecil dia rajin belajar dan memiliki cita - cita yang sederhana, tidak mau memiliki hidup seperti orang tuanya.
Gambaran di atas membuat keluarga besarnya terlihat jahat bukan, tapi tunggu dulu keluarganya tidak sejahat yang kalian bayangkan ya gaess, diantara dari mereka ada yang menyekolahkan Irda dari kelas 4 SD sampai 3 SMP. Bahkan ada yang membantu keuangan sekolah Irda dari SMA sampai bangku perkuliahan. Sekarang kalian pasti berfikir mungkin Irda terlalu berlebihan menilai keluarganya. Jadi gini ya ges, Melakukan kejahatan itu tidak hanya fisik, bisa dari hati yang beruapa sebuah pikiran dan niatan dan bisa berupa verbal yang diucapkan. Apakah keluarga Irda melontarkan kata - kata kasar seperti mengumpat?, oh jelas tidak. Seperti yang sudah dijelaskan di paragraf pertama bahwa Irda sering mendapatkan hate komen dan pendapat negatif paman bibinya mengenai orang tuanya dan mencoba membuat Irda seperti berbeda. Irda dianggap paling rendah dengan perlakuan paman bibinya. Perlakuan yang dilakukan mereka terhadap Irda seperti mencoba memasukan Irda ke sekolah biasa saja mungkin dengan alasan biaya, atau supaya tidak mengungguli anak paman dan bibinya atau karena dianggap tidak pantas karena memiliki orang tua yang sangat complicated. Kalo untuk biaya rasanya tidak mungkin karena Irda adalah sosok anak yang pintar pada saat itu, dan Irda pun sudah ditawari beasiswa oleh salah satu guru di sekolah terbaik di tempat tinggalnya. Irda selalu diingatkan oleh mereka bahwa "Irda itu anaknya siapa?" yang artinya Irda perlu tahu diri.
Apa hubungannya dengan lebaran?, ya momen berkumpulnya keluarga besar ayahnya Irda adalah saat lebaran. Irda adalah muslim yang bangga dengan agamanya jadi saat Irda kecil lebaran adalah momen terindah baginya, tetapi momen berkumpul dengan keluarga adalah momen terburuknya. Setelah solat Ied, yang dirasakan Irda adalah ingin kabur bermain dan menyendiri, tapi hal itu tidak mungkin. Untungnya, Irda memiliki prinsip loss and profit dari kecil, untuk dia bisa tetap berada dineraka itu dia akhirnya berusaha mengumpulkan pundi - pundi uang THR dari keluarganya. Jadi setiap kali mereka mencoba menyudutkan Irda yang berkedok nasihat tetapi menyakitkan (ya karena mereka merasa senang sebenarnya jika melontarkan mutiara - mutiara palsu dari bibir mereka kepada Irda), Irda hanya memikirkan, "keluarkan uangmu wahai paman dan bibi".. hahahaha
Jadi menurut kalian, siapa disini yang jahat? Keluarga besar ayahnya nya kah? atau Orang Tua Irda yang membuat keluarga besar nya bebas melontarkan pisau - pisau tajam dari mulut mereka kepada Irda?
Komentar
Posting Komentar